Jumat, 07 Februari 2014

Kumpulan Undang-undang Ketenagakerjaan

:. hse-info.com. UU No 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kesehatan Kerja
UU Uap Tahun 1930 Tentang Pesawat Uap
UU No. 14 tahun 1992 – Lalu Lintas dan Jalan
UU Jamsostek Terbaru Nomor 40 Tahun 2004
UU No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
UU No 11 Tahun 1961 Tentang Hygiene untuk usaha-usaha bagi umum
UU No 3 Tahun 1969 tentang Persetujuan Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional No.120 Mengenai Hygiene dalam Perniagaan dan Kantor-Kantor

Kumpulan Kepmen dan Permenaker Republik Indonesia


:. hse-info.com. Kepmen LH 48 1996 BAKU TINGKAT KEBISINGAN
Kepmen 187 Men 1999 PENGENDALIAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA DITEMPAT KERJA
Kepmen LH No 49 TH 1996 BAKU TINGKAT GETARAN
Kepmen LH 86 Tahun 2002 UKL UPL
Kepmen No 17 tahun 2001 KEGIATAN USAHA WAJIB AMDAL
Kepmen PU 002 tahun 1985 KETENTUAN, PENCEGAHAN, PENANGGULANGAN KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG
permenaker 5-1985 PESAWAT ANGKAT – ANGKUT
Kepmenaker No 51 th 1999 AMBANG BATAS FAKTOR FISIKA DITEMPAT KERJA
Kepmen LH 45 thn 2005 RKL RPL

Contoh-contoh Kecelakaan Kerja

:. hse-info.com. PERUT TERPUKUL DRILL COLAR Tanggal 3 Maret 2010 di sebuah instalasi pemboran lepas pantai telah terjadi kecelakaan yang menyebabkan seorang Roustabout meninggal dunia. Kecelakaan terjadi ketika sedang mengeluarkan drill colar dari dalam box penyimpanan dengan bantuan alat angkat (crane).
Kronologi kecelakaan:
  • Drill Colar (DC) adalah salah satu rangkaian pipa bor yang dipasang di atas pahat. Gunanya sebagai pemberat, sehingga pemboran lebih mudah untuk menembus lapisan tanah.
  • Biasanya drill colar diletakkan di atas rak pipa atau disimpan dalam sebuah kotak.
  • Pada instalasi pemboran di lepas pantai yang tempatnya serba terbatas, drill colar disimpan di dalam kotak.
  • Untuk mengeluarkan drill colar dari dalam kotak tidak mungkin diangkat oleh manusia, karena drill colar sangat berat, sehingga digunakan pesawat angkat.
  • Cara mengangkatnya dengan kawat baja (sling) yang diujungnya dipasang pengait.
  • Pengait dicantolkan di kedua ujung pipa (dc), kemudian diangkat dengan pesawat angkat (crane).
  • Pada saat pengangkatan inilah terjadi kecelakaan, dimana posisi sling tidak center dengan pipa, sehingga pipa terayun dan ujungnya menumbur perut seorang Roustabout yang berada di dekatnya.

SMK3

:. hse-info.com. Baru-baru ini terjadi perdebatan karena pihak ESDM mengeluarkan pernyataan bahwa “industri Migas dan Tambang tidak wajib menerapkan SMK3″. Memang dalam dunia industri Migas dan Tambang tentunya sistim manajemen mutu seperti ISO 9001, OHSAS dan ISO 14001 lebih populer dari pada produk SMK3. Namun dengan dikeluarkannya PP No.50/2012 ini tentunya semua industri yang memperkerjakan pegawai 100 orang atau lebih dan industri dengan resiko tinggi wajib menerapkan SMK3 seperti tercantum dalam pasal 5 ayat 1 dan 2. Lalu bagi industri besar seperti industri Migas dan Tambang timbul pertanyaan mengapa harus mengaplikasikan SMK3 jika mereka sudah mengaplikasikan OHSAS 18001:2007?? jawabannya mudah, bagi mereka yang ingin mengaplikasikan ISO 9001 ataupun OHSAS 18001:2007 ada persyaratan bahwa perusahaan harus mentaati peraturan lokal dan regional yang berlaku di tempat perusahaan itu melaksanakan usahanya, dalam hal ini maka SMK3 menjadi persyaratan mutlak yang harus diterapkan oleh perusahaan yang ingin mendapatkan sertifikasi ISO 9001 ataupun OHSAS.Hal ini dapat dicermati dalam kalimat panduan ISO 9001 yang mengharuskan perusahaan memenuhi kepuasan pelanggan, regulasi dan peraturan perundangan yang berlaku.
Begitulah penerapan ISO 9001 dan OHSAS sudah memperhitungkan dan menghormati peraturan lokal yang berlaku sementara pelaku dunia usaha kurang mencermati tujuan dan hakikat dari penerapan sistem manajemen, termasuk sistem manajemen K3. Untuk itu bersama ini kami sertakan unduhan PP 50/2012 dan pedoman ISO 9001:2008 sebagai bahan bacaan.

PP No. 50 Tahun 2012 tentang SMK3
SNI ISO 9001_2008_(dua bahasa)

Teori Kecelakaan Kerja

:. hse-info.com. Terdapat banyak teori yang menjelaskan bagaimana kecelakaan dapat terjadi, pada intinya kecelakaan adalah hal yang terjadi diluar dugaan dan tidak terencana, kecelakaan menimbulkan korban, baik korban materil ataupun non-materil.
Teori Domino
Heinrich (1980) dalam  risetnya menemukan sebuah teori yang dinamai teori domino. Teori ini menyebutkan bahwa pada setiap kecelakaan yang menimbulkan cedera, terdapat lima faktor secara berurutan yang digambarkan sebagai lima domino yang berdiri sejajar, yaitu kebiasaan, kesalahan seseorang, perbuatan, dan kondisi tidak aman (hazard), kecelakaan, serta cedera. Heinrich mengemukakan, untuk mencegah terjadinya kecelakaan, kuncinya adalah dengan memutuskan rangkaian sebab akibat. Misalnya dengan membuang hazard, satu domino diantaranya.

Faktor penyebab kecelakaan kerja menurut Heinrich (1980) antara lain:
1. Ancestry dan Social Environment, yaitu faktor keturunan, keras kepala, gugup, penakut, iri hati, sembrono, tidak sabar, pemarah, tidak mau bekerjasama, tidak mau menerima pendapat orang lain, dan lain-lain.
2. Fault of Person, yaitu rangkaian dari faktor keturunan dan lingkungan yang menjurus pada tindakan yang salah dalam melakukan pekerjaan. Ada beberapa keadaan yang menyebabkan seseorang melakukan kesalahan-kesalahan, yaitu:
  1. Pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan yang rendah
  2. Keadaan fisik seseorang yang tidak memenuhi syarat
  3. Keadaan mesin atau lingkungan fisik yang tidak memenuhi syarat

Behavior Based Safety (BBS) / Keselamatan Berbasis Perilaku


:. hse-info.com. Berbicara mengenai Behavior Based Safety atau Keselamatan Berbasis Perilaku, maka sangat jelas sekali bahwa basic atau landasan jalannya program ini adalah berdasarkan perilaku. Perilaku disini pasti sangat jelas berhubungan dengan perilaku manusia dalam hal bekerja di area kerja yang sangat banyak bersinggungan dengan alat-alat kerja, benda kerja, kendaraan kerja, langkah kerja, dan lainnya. Sebelum masuk lebih dalam ke pembahasan mengenai Behavior Based Safety, maka sebaiknya kita harus mengenali terlebih dahulu mengenai PERILAKU.


Pengertian Perilaku menurut beberapa ahli
  1. Menurut Geller (2001), perilaku mengacu pada tingkah laku atau tindakan individu yang dapat diamati oleh orang lain. Dengan kata lain, perilaku adalah apa yang seseorang katakan atau lakukan yang merupakan hasil dari pikirannya, perasaannya, atau diyakininya.
  2. Perilaku manusia menurut Dolores dan Johnson (2005 dalam Anggraini, 2011) adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan atau genetika. Perilaku seseorang dapat dikelompokkan ke dalam perilaku wajar, perilaku dapat diterima, perilaku aneh, dan perilaku menyimpang. Perilaku dianggap sebagai sesuatu yang tidak ditunjukkan kepada orang lain dan oleh karenanya merupakan suatu tindakan sosial manusia yang sangat mendasar
  3. Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Dengan demikian, perilaku manusia pada hakikatnya adalah tindakan atau aktifitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas, antara lain berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya.
  4. Skinner, merumuskan bahwa perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan dan respon. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori Skinner ini disebut dengan teori “S-O-R” atau “Stimulus-Organisme-Respons”.

Kecelakaan Kerja

:. hse-info.com. Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak direncanakan dan tidak terkendali yang disebabkan oleh faktor manusia, situasi, dan lingkungan atau gabungan dari ketiganya, yang mengganggu proses kerja, yang dapat atau tidak dapat menimbulkan cedera, kesakitan, kematian, kerusakan properti, kerusakan lingkungan, atau kejadian lain yang tidak diinginkan, tetapi berpotensi untuk terjadi kecelakaan. Sementara itu menurut Heinrich (1980), kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak direncanakan dan tidak terkendali akibat aksi atau reaksi dari sebuah benda, substansi, manusia, atau radiasi yang menimbulkan cedera atau berpotensi demikian.
Kecelakaan dapat disebabkan oleh adanya dua hal yaitu bahaya mekanis atau sumber energi yang tidak terkendali dan yang kedua adalah tindakan yang tidak aman. Dari kedua hal ini, semuanya terjadi karena kesalahan dari faktor manusia itu sendiri. Kesalahan ini menurut Heinrich disebabkan oleh faktor lingkungan atau keturunan. Karena itu, dalam menganalisis suatu kecelakaan akan terlihat keadaan sebagai berikut:

Keterangan dari teori Domino Heinrich diatas, dimulai dari terjadinya cidera. Cidera disebabkan oleh kecelakaan. Kecelakaan ini disebabkan oleh bahaya mekanis atau sumber energi yang tidak terkendali dan tindakan tidak aman. Kedua hal ini merupakan penyebab langsung. Hal ini terjadi karena kesalahan manusia dan kesalahan manusia ini disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan sebagai penyebab dasar.

Ruang Lingkup Kesehatan di Tempat Kerja

Di Indonesia  tercatat sepanjang tahun 2009 telah terjadi sebanyak 54.398 kasus kecelakaan kerja. Angka tersebut mengalami tren menurun sejak 2007 yang sempat mencapai 83.714 kasus dan melorot pada 2008 yang hanya 58.600 kasus.Dari lebih dari 50 ribu kasus kecelakaan kerja tahun 2008, sebanyak 20.086 kasus tergolong pelanggaran K3 dan sebanyak 107 kasus sedang masuk proses penyidikan (BAP).
Padahal, sepanjang tahun 2009, terdapar 18.244 unit Satgas K3, 440 Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3), 5 perusahaan Badan Audit K3, 1.120 perusahaan yang menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), dan sebanyak 2.524 perusahaan yang nihil kecelakaan kerjanya.

Seperti tercantum dalam pasal 3 ayat (1) Undang Undang No.1 tahun 1970 dimana syarat-syarat keselamatan kerja terdapat 50% merupakan syarat-syarat keselamatan kerja. Pengawasan kesehatan kerja mengacu pada Undang Undang No.1 tahun 1970 pasal 2, pasal 3 ayat 1 dan 2, pasal 5, pasal 8, pasal 9, pasal 11, pasal 12, pasal 14 dan peraturan pelaksanaannnya. Karenanya pelaksanaan kesehatan kerja di tempat kerja adalah sesuatu yang sangat penting dan mendesak.

Ruang Lingkup Pelayanan Kesehatan
Secara umum pelayanan kesehatan di tempat kerja meliputi:
  • Pelayanan Kesehatan Kerja, meliputi sarana , tenaga dan organisasi.
  • Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja.
  • P3K, meliputi personil, kotak P3K, isi kotak P3K.
  • Gizi kerja, kantin atau pengelola makanan bagi tenaga kerja.
  • Sanitasi & Hygien
Dasar Hukum
  1. Undang-undang No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dimana terdapat syarat – syarat keselamatan kerja sesuai dengan Bab III pasal 3. Pemeriksaan kesehatan yang tercantum dalam pasal 8. Kewajiban melapor penyakit akibat kerja pasal 11.
  2. Undang – undang No.3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja pasal 6 ayat (1) yang mengatur ruang lingkup program meliputi, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, Jaminan Hari Tua, dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan.
  3. Peraturan Pemerintah No.14 tahun 1993 tentang Jamsostek, di dalam peraturan ini diatur mengenai ketentuan penyelenggaraan program Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
  4. Kepres No.22 tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul Karena Hubungan Kerja, dalam keputusan ini diatur mengenai penyakit – penyakit yang timbul karena hubungan kerja dan mendapat kompensasi dari jamsostek.
  5. Permenaker nomor Per-01/Men/1976 tentang Kewajiban Latihan Hyperkes bagi Dokter Perusahaan.
  6. Permenaker nomor Per-01/Men/1979 tentang Kewajiban Latihan Hygiene Perusahaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja Bagi Tenaga Paramedis Perusahaan.
  7. Permenaker nomor 02/Men/1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja.
  8. Permenakertras nomor Per-01/Men/1981 tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja.
  9. Permenakertrans nomor Per-03/Men/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Tenaga Kerja.
  10. Permenakertrans nomor Per-01/Men/1998 tentang Penyelenggaraan Pemeliharaan Kesehatan bagi Tenaga Kerja Dengan Manfaat Lebih Baik Dari Paket Jaminan Pemeliharaan Kesehatan.
  11. Kepmen Tenaga Kerja No.333 tahun 1989 tentang Diagnosa dan Pelaporan Penyakit Akibat Kerja.
  12. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja nomor SE.01/Men/1979 tentang Pengadaan Kantin dan Ruang Makan.
  13. Surat Edaran Dirjen Binawas nomor SE.07/BW/1997 tentang Pengujian Hepatitis B Dalam Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja.
  14. Surat Edaran Dirjen Binawas nomor SE.86/BW/1989 tentang Perusahaan Catering Yang Mengelola Makanan Bagi Tenaga Kerja.

Lockout/Tagout (LOTO) / Penguncian & Pelabelan

Proses Penguncian dan Pelabelan (selanjutnya disebut LOTO) bertujuan untuk melindungi orang yang sedang bekerja atau berada disekitar mesin, instalasi listrik atau fasilitas proses produksi yang sedang diperbaiki dan dalam perawatan. Perlindungan itu dilakukan dengan mengisolasi energi berbahaya atau penguncian, pemasangan pengaman dan label pada sumber-sumber energi yang dapat mencederai seseorang.

Proses LOTO ini merupakan persyaratan minimum yang harus diterapkan pada seluruh fasilitas apabila pegawai atau mitra kerjanya melakukan pekerjaan pada tempat kerja di mana pelepasan energi berbahaya sangat mungkin dapat terjadi, seperti pada situasi berikut:
  1. Mesin/peralatan proses baru yang hendak dibeli dan dipasang
  2. Peralatan yang ada sedang dimodifikasi, diperbaiki, direnovasi atau diganti
  3. Alat pengisolasi energi sedang diperbaiki atau sedang dibuatkan/ditambahkan pada suatu peralatan.
Energi meliputi Energi Kinetik (gaya yang disebabkan oleh suatu benda) dan Energi Potensial (gaya yang tersimpan di dalam suatu benda yang tidak bergerak). Energi Kinetik dan Potensial meliputi Listrik, Mekanik, Hidraulik, Pneumatik, Kimia, Panas, dll.
Proses ini meliputi prosedur pelaksanaan LOTO dengan peran dan tanggung jawab terkait dari pelaksana proses, dan infrastruktur yang diperlukan bagi berjalannya proses.

Personal Protective Equipment (PPE) / Alat Pelindung Diri (APD)

Alat Pelindung Diri (APD) atau biasa juga disebut Personal Protective Equipment (PPE), di tempat kerja harus dipertimbangkan dalam konteks sebagai metode pengendalian untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Perlu selalu diingat bahwa memakai alat pelindung diri yang tepat saat bekerja harus dipertimbangkan sebagai usaha terakhir dalam mengurangi atau menghilangkan risiko di tempat kerja, yang hanya akan digunakan saat pengendalian teknis yang dapat mengurangi bahaya (seperti isolasi, ventilasi, penggantian atau perubahan proses) dan kontrol administratif (seperti prosedur kerja) tidak dapat diterapkan.

Proses APD ditujukan untuk memastikan bahwa APD telah dipilih dengan benar sesuai dengan bahaya yang ada dan mengacu kepada standar, pegawai dan mitra kerja mendapatkan pelatihan yang sesuai, dan selalu memakai APD yang tepat dengan benar untuk pekerjaan yang memerlukannya. Dimana UU No.1 Tahun 1970 mewajibkan perusahaan untuk menyediakan APD kepada pekerja sesuai dengan resiko pekerjaan yang digelutinya. APD juga wajib diberikan kepada siapapun yang memasuki tempat kerja (termasuk tamu perusahaan).
Definisi Khusus :
  1. Alat pelindung diri (APD): Adalah alat bantu sebagai pertahanan terakhir untuk mengurangi resiko akibat dari suatu kecelakaan.
  2. Evaluasi Bahaya: kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui jenis/komposisi dan besarnya/konsentrasi bahaya, termasuk di dalamnya adalah bahaya fisik, biologis, dan kimiawi di tempat kerja. Kegiatan ini perlu diselesaikan sebelum melanjutkan kepada pemilihan APD yang tepat. Evaluasi bahaya dapat dilakukan dengan menggunakan cara observasi maupun pengukuran kuantitatif.

Access Control

Access Control adalah pembatasan akses untuk memasuki beberapa lokasi. Proses Access Control ditujukan untuk memastikan bahwa hanya orang-orang yang berwenang dan punya alasan yang absah, terkait dengan operasi dan bisnis, mendapatkan ijin, dan memahami dan memenuhi persyaratan yang ditentukan untuk masuklah yang dapat memasuki dan/atau bekerja di dalam fasilitas. Hal ini dimaksudkan agar keselamatan dan keamanan fasilitas, dan orang-orang yang berada di dalamnya dapat terjamin.
Access Control biasanya dilakukan dengan memberikan Badge/ID Card dengan wilayah akses tertentu. Atau memasang rambu pada pintu fasilitas, misalnya rambu “selain karyawan dilarang masuk”. Cara lain adalah dengan menaruh pos penjagaan/security ataupun dengan cara memasang kunci otomatis yang hanya bisa dimasuki oleh orang yang memiliki ID Card atau mengetahui Kode Masuk (PIN).

Orang-Orang yang boleh berada pada Area Kerja:
  1. Security: Tim security perusahaan yang ditugaskan secara khusus untuk menjaga keamanan fasilitas.
  2. Persyaratan Memasuki Fasilitas: persyaratan yang harus dipenuhi oleh pengunjung yang ingin memasuki fasilitas tertentu.
  3. Pengunjung: mereka yang punya alasan yang absah dan kepentingan bisnis tertentu untuk masuk ke dalam fasilitas. Pengunjung dapat dibedakan menjadi tamu (yang hanya sekedar berkunjung seperti, Management Visit, Executive Visit, kunjungan mahasiswa kerja praktek, tim lain yang datang untuk mendapatkan data, dan wawancara), supporting team (tim lain yang bekerja di dalam fasilitas, atas nama project atau atas dasar work order yang dibuat oleh Facility Owner, seperti mitra kerja, tim maintenance, dan tim project development).
Hal-hal yang termasuk dalam ruang lingkup access control adalah:
  • Layout Area Kerja
Layout area kerja pada dasarnya berisi informasi lengkap mengenai gambaran umum ruang atau pabrik atau workshop yang selalu digunakan untuk beraktivitas melakukan pekerjaan. Layout bisa berbentuk denah. Selain berupa gambaran umum area kerja, layout juga mendeskripsikan jalur evakuasi apabila terjadi kebakaran di tempat kerja dengan menuliskan jalur “Emergency Exit”. Tempat Fire Extinguisher atau APAR berada pun ditunjukkan dalam lay out ini. Selanjutnya, layout pun diberi warna yang sesuai dengan petunjuk mengenai area kerja, area jalan, dan area office, serta letak restrooms.




Layout ditujukan untuk orang-orang yang belum pernah memasuki area kerja tersebut atau orang-orang yang baru pertama kali akan memasuki area kerja. Safety induction wajib diberikan kepada pekerja atau tamu yang berkepentingan oleh HES Officer dengan menjelaskan area kerja melalui layout yang harus ditempel atau diletakkan di pintu atau gerbang masuk fasilitas kerja. Penjelasan dari HES Officer haruslah lengkap dan menyeluruh termasuk penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di area wajib APD.
  • Log Book
Adalah buku yang digunakan untuk mencatat lalu lintas orang dan kendaraan yang memasuki/meninggalkan fasilitas tertentu. Log book ditulis dengan tulisan tangan pekerja atau pengunjung sendiri. Log book berfungsi agar selalu mengetahui jumlah orang-orang yang berada di area atau fasilitas kerja. Hal ini sangat diperlukan terlebih apabila terjadi kebakaran, maka log book merupakan hal pertama yang harus dicek untuk mengetahui berapa jumlah orang yang masih berada di area yang mengalami kebakaran. Log book sebaiknya dibagi menjadi 2 macam, yaitu log book untuk data keluar masuknya karyawan perusahaan sendiri dan log book untuk tamu yang berkunjung ke area kerja. Dalam log book terdapat beberapa kolom yang umum yang diisi.
- Log Book Pekerja: terdiri atas kolom Nama Pekerja, Badge Pekerja, Jam masuk, Jam Keluar, Tanda Tangan / Paraf, dan Keterangan
- Log Book Tamu: terdiri atas kolom Nama Pengunjung, Badge Pengunjung, Badge Visitor, Tujuan, Barang yang dibawa, Jam masuk, Jam Keluar, Tanda Tangan / Paraf, Keterangan

  • Papan Persayaratan Masuk Pengunjung, Warning Sign, dan PPE Sign

Pada beberapa area kerja, khususnya di lokasi kerja yang menyangkut jenis kerja minyak bumi, gas, dan minerba, papan persyaratan masuk pengunjung sangat diperlukan untuk mengingatkan pengunjung mengenai hal apa saja yang wajib diisi dan dilengkapi sebelum memasuki fasilitas kerja. Selain itu, papan warning sign dan PPE / APD Sign juga wajib ada di area access control Hal ini merupakan salah satu kelengkapan access control yang mencegah terjadinya bahaya di area kerja.
            





  •  Badge Visitor
Setiap area kerja, baik office ataupun lapangan, wajib menyiapkan badge khusus visitor. Badge ini memiliki fungsi untuk menginformasikan bahwa pengunjung telah memiliki izin untuk memasuki area kerja tersebut. Badge visitor didapatkan dengan cara menukarkan tanda pengenal yang dimiliki oleh pengunjung seperti badge perusahaan pengunjung, KTP, SIM, atau lainnnya.

Dokumen MSDS

Dokumen Material Safety Data Sheet (MSDS) adalah dokumen atau bahan tertulis mengenai suatu bahan kimia berbahaya yang memberikan informasi mengenai bahaya potensial dan cara penanganan yang selamat (aman) atas bahan yang digunakan. Tujuan spesifik dari penggunaan MSDS di tempat kerja adalah untuk menjamin bahwa bahaya bahan kimia dan fisik yang ada di tempat kerja dan cara penanganannya dikomunikasikan secara baik kepada pegawai dan mitra kerja, sehingga baik pegawai dan mitra kerja dapat bekerja dengan selamat dalam menggunakan bahan tersebut.
Lembar MSDS biasanya dibuat oleh pemilik pabrik asal pembuatan bahan kimia tersebut. Namun, sebagai implementasi salah satu program HSE di tempat kerja, HSE Officer bisa membuat kembali lembar MSDS di tempat kerja dengan tulisan dan isi informasi yang lebih jelas berdasarkan lembar MSDS asli dari pabrik.

MSDS sangat berguna dalam pekerjaan yang memilik keterlibatan langsung dengan penggunaan bahan kimia berbahaya. Oleh karena itu, maka setiap lembar MSDS harus diletakkan, digantungkan, atau ditempel di dekat bahan kimia yang digunakan.
Material Safety Data Sheet (MSDS) umumnya dibagi atas 7 bagian yang mencakup jenis informasi sebagai berikut:
  1. Identifikasi
  2. Unsur Berbahaya
  3. Data Bahaya Api dan Ledakan
  4. Data Fisik
  5. Data Bahaya Untuk Kesehatan
  6. Informasi Pelindung Khusus
  7. Prosedur Penanganan Tumpahan atau Kebocoran dan Tindakan Pencegahan Khusus
Area kerja yang berkaitan langsung dengan penggunaan bahan kimia berbahaya, selain memerlukan MSDS juga memerlukan hal lain untuk mengkomunikasikan peringatan akan bahayanya sebuah bahan kimia dan penanganannya, yaitu ada label (Diamond Label), ada Safety Shower dan Eye Wash, ada tanda peringatan dan informasi di sekitarnya.
DIAMOND LABEL dan PLAKAT



Beberapa labelling dan marking system untuk mengkomunikasikan bahaya seperti di atas, biasa digunakan secara internasional. NFPA dan HMIS adalah sistem pewarnaan dan sistem peringkat sebagai kode dalam menentukan tingkat bahaya dan dampaknya.
NFPA (National Fire Protection Association) Diamonds
Dalam Diamond Label terdapat 4 bagian yang direpresentasikan dengan 4 warna masing-masingnya dan penggunaan angka untuk menunjukkan tingkatan bahaya bahan kimia tersebut. Warna-warna yang digunakan adalah warna merah, warna biru, warna kuning, dan warna putih. Warna merah berisi informasi mengenai dampak kesehatan, warna biru berisi informasi mengenai titik ledakan dan kebakaran, warna kuning berisi informasi mengenai reaktivitas, dan warna putih berisi informasi mengenai bahaya khusus.
HMIS (Hazardous Materials Information System)
Sistem yang digunakan oleh HMIS hampir sama dengan sistem NFPA dalam pengkodean warna, kecuali warna putih. Dalam sistem HMIS, warna putih ditujukan sebagai informasi khusus mengenai Personal Protective Equipment (PPE / Alat Pelindung Diri) yang digunakan.
Warna dan Angka
Warna Biru        : Berisi data mengenai dampak terhadap kesehatan
Angka:
  • 0 : Normal Material (Terkena bahan ini tidak berbahaya bagi kesehatan)
  • 1  : Slightly Hazardous (Mengakibatkan iritasi atau luka apabila terkena bahan ini. Gunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai
  • 2 : Hazardous (Terkena bahan ini akan mengakibatkan bahay terhadap kesehatan. Gunakan APD yang sesuai
  • 3  : Extreme Danger (Luka atau akibat serius dapat diakibatkan jika terkena bahan ini. Lindungi seluruh permukaan tubuh dari bahan ini. APD yang lengkap yang harus digunakan adalah Uniform (Baju safety), Chemical Hand gloves, Chemical Goggles, dan Safety Shoes.
  • 4  : Deadly (Walaupun hanya sedikit terkena bahan ini, dapat menyebabkan kematian. Hanya baju khusus untuk perlindungan bahan ini yang boleh dipakai.

Warna Merah   : Berisi data mengenai dampak ledakan dan kebakaran
Angka :
  • 0  : Will Not Burn (Tidak dapat terbakar)
  • 1  : Above 200 F (Agar terbakar diperlukan pemanasan awal. Sebagian besar material solid yang dapat terbakar berada pada bagian ini)
  • 2  : Between 100 F and 200 F (Sedikit pemanasan dapat menyebakan timbulnya nyala api. Prosedur kehatia-hatian harus ada bagi pekerja yang menangani).
  • 3  : Below 100 F (Dapat terbakar, menguap, dan meledak dibawah temperatur normal. Diperlukan latihan dan training kehati-hatian dalam menangani bahan ini).
  • 4  : Below 73 F (bahan ini sangat mudah terbakar, menguap, dan meledak tergantung dari kondisinya. Kehati-hatian total dan sangat mendalam harus dilakukan dalam menangani dan menyimpan bahan ini).

Warna Kuning  : Berisi data mengenai Reaktivitas
Angka:
  • 0  : Stable (Bahan dalam kondisi stabil jika mengalami panas, penekanan, atau bereaksi dengan air)
  • 1  : Unstable if Heated (Bahan dapat menjadi tidak stabil jika pada kondisi tekanan atau temperatur yang meningkat atau bereaksi dengan air. Penanganan dengan kehati-hatian)
  • 2  : Violent Chemical Change (Dapat berubah menjadi bahan kimia berbahaya lain dalam kondisi normal atau tertentu. Mengakibatkan bahaya atau ledakan jika bercampur dengan air. Pengawasan dari jarak jauh)
  • 3  : Shock / Heat May Detonate (Bahan yang dapat meledak jika mendapat tindakan awal sepert panas, tekanan, atau air. Pengawasan dari balik pelindung atau dinding tahan ledakan)
  • 4  : May Detonate (Bahan mempunyai kemampuan dapat meledak pada temperatur dan tekanan normal. Evakuasi area jika lokasi terkena panas atau api)
NFPA Diamond Warna Putih   : Berisi informasi mengenai bahaya khusus seperti OXY (Oxidizer), ACID (Acid), ALK (Alkali), COR (Corrosive), Use No Water, dan Radiation Hazard
HMIS Label Warna Putih    : Berisi informasi khusus mengenai Personal Protective Equipment (PPE) / Alat Pelindung Diri (APD) yang harus digunakan dalam bekerja menggunakan bahan kimia.

Contoh Penggunaannya :



Pencegahan dan Penanganan akibat terkena Dampak Bahan Kimia Berbahaya bagi Pekerja
Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan adanya papan informasi peringatan (warning signs) merupakan salah satu cara untuk mencegah terkena dampak penggunaan bahan kimia bagi pekerja. Iritasi parah pada mata, kerusakan kulit yang permanen, gangguan pernapasan dan atau beracun jika dihirup, serta korosif, merupakan hal yang paling umum dan acap kali dirasakan oleh pekerja yang terkena bahan kimia berbahaya. Oleh karena itu, sangat penting adanya ketersediaan Eye Wash, Safety Shower, dan Wastafel di tempat kerja dan peletakkannya pun tidak boleh jauh dari posisi peletakkan bahan kimia berbahaya. Peralatan ini harus diletakkan antara 10 – 50 feet dari potensi bahaya.
Contoh Eye Wash

Contoh Safety Shower

Contoh Warning Signs

Filed under: Material Safety Data Sheet (MSDS)

Pengertian HSE

HSE merupakan kepanjangan dari Health, Safety, Environment merupakan salah satu bagian dari management perusahaan. Manajemen perusahaan yang umumnya terdiri dari Manajemen Keuangan, Manajemen SDM dan lain-lain serta salah satunya adalah Manajemen HSE. Dalam Bahasa Indonesia umumnya HSE di istilahkan dengan K3L (Kesehatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup) atau K3LL (Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lindungan Lingkungan.
Dalam suatu perusahaan umumnya Manajemen HSE dipimpin oleh seorang Manajer HSE, yang bertugas untuk merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan seluruh program HSE. Program HSE disesuaikan dengan tingkat resiko dari masing-masing pekerjaan. Misalnya HSE pada bidang konstruksi akan berbeda dengan HSE pada bidang Pertambangan maupun dalam Migas.

Beberapa perusahaan mengintegrasikan sistem manajemen HSE ini dengan Sistem Manajemen Sekuriti (Security) dan/atau Mutu (Quality). Bahkan ada yang mengintegrasikan dengan semua aspek, seperti. HR, Finance, Marketing dan lain-lain, sehingga terkadang nama sebuah sistem tidak lah terlalu penting, karena yang essential adalah refleksi dari sistem itu sendiri dalam implementasinya.
Sebagai sebuah sistem manajemen modern, maka dokumentasi untuk panduan dan pengimplementasian harus disusun dan disahkan untuk digunakan. Jenis dan tipe dokumen-dokumen tersebut tergantung dari ukuran organisasi, jenis usaha, kompleksitas proses yg terlibat dalam organisasi tersebut, tetapi paling tidak secara umum dokumen-dokumen tersebut adalah :
1. Kebijakan HSE dan/atau Sekuriti dan/atau Mutu
2. Proses-proses yang diperlukan untuk operasional perusahaan dan pengendaliannya.
3. Prosedur-prosedur yang dibutuhkan untuk mendukung point 2
4. Panduan/guideline
5. Form-form isian yang berguna untuk kerangka pencatatan sebuah aktifitas atau bukti pencapaian sebuah proses tertentu.
Untuk hal di atas, sudah ada standard-standard International/National HSE spt. : ISO 14001 untuk Sisten Manajemen Environment, OHSAS 18001 untuk Occupational Health and Safety, OSHA untuk Occupational Health and Safety, K3 untuk Occupational Health and Safety (standard Depnaker – Indonesia), ISM – untuk Occupational Heath and Safety
Semua standar di atas mempunyai program sertifikasi, yaitu pengakuan dari badan/pihak ke 3 yang independent. Jadi perusahaan boleh secara sukarela mendemonstrasikan kesesuaian nya dengan standard tertentu dengan cara diaudit oleh lembaga sertifikasi. Apabila telah memenuhi syarat, maka diberi sertifikat dan akan kembali diaudit setiap 6 bulan atau 1 tahun sekali.
Sebagai sebuah sistem, training-training seputar HSE bisa bermacam-macam, mulai dari Pengenalan, Prinsip dan Fundamental sampai kepada topik-topik khusus.
Misalkan saja, jika HSE adalah sebuah Sistem Tata Negara, maka yang pertama kali untuk pengenalan adalah anda harus tahu Dasar Negara, Struktur perundang-undangan negara mulai dari UUD 45, UU/PP, s/d peraturan daerah, kemudian bentuk pemerintahan (presidensial/parlementer).
Kemudian baru lah ada topik-topik khusus dalam sistem yang membuat tata negara itu berjalan efektif, misalnya proses pemilu, proses pilkada, proses pemberdayaan ekonomi, proses manajemen keuangan negara dan daerah, evaluasi dan rapat tahunan DPR/MPR, dll. Dan seterusnya adalah kasus-kasus khusus misalnya real terjadi sebagai sebuah fakta, misalnya insiden-insiden, kasus korupsi, mark up nilai project, bencana lumpur lapindo, krisis keuangan, BUMN, reshufle kabinet dan lain-lain.
Dalam dunia Migas, HSE bukan merupakan standard, namun dalam menerapkannya perusahaan perlu mengadopsi beberapa standard yang telah ada dan ditentukan. Khusus dalamDunia Migas beberapa standard yang dipakai adalah sebagai berikut:
1. API RP 750, tentang Process Safety Management
2. OSHA CPR 119.10. 110, tentang Process Safety Management
3. OHSAS 18001, tentang Occupational Health and Safety
4. Kepmenaker tentang SMK3
5. NFPA, National Fire Protection Association
6. NEC, National Electrical Code
7. LSC, Life Safety Code
8. dan lain lain masih banyak lagi standard yang berkaitan dengan masing masing jenis bahaya

Source : yoma.wordpress.com

CHESM

CHESM (Contractor Health Environment Safety Management) merupakan keseluruhan dokumentasi dari program Health Environment Safety (HES) yang akan dan telah dijalankan oleh perusahaan. Merupakan integrasi dari  OHSAS 18001, ISO 14001, ISO 9001 dan berbagai program HES pendukung lainnya. Berisi mengenai kebijakan dan komitmen perusahaan, struktur organisasi, HES Program, implementasi meeting, implementasi training, penggunaan peralatan, dan lainnya. Pengerjaan dokumentasi CHESM maksimal adalah 2 bulan, bagi perusahaan yang belum memiliki program HES yang telah dijalankan. Sedangkan perusahaan yang sudah memiliki dan melaksanakan program HES, waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan CHESM maksimal 1 bulan, dengan pemberitahuan sekurang-kurangnya 1 bulan sebelum pengumpulan berkas tender bagi perusahaan yang memerlukan CHESM untuk melengkapi tender.

Secara umum CHESM meliputi:
  • Leadership roles and accountability
  • Business Planning
  • Qualification and Selection
  • Pre Job Review
  • Work in Progress